Mencari Harmoni

Adakah kombinasi harmoni antara seni (idealisme) dan desain (fungsi)?

Pada tahun 2006

Siapa tak kenal permainan bola indah ala Brazil?
Kaki-kaki emas yang bermain bak irama samba menggiring, menghibur dan menyihir jutaan pasang mata diseluruh dunia. Seolah sang seniman tengah menari menghantarkan bola dengan sempurna, sebuah permainan yang membuat berdiri bulu roma pecandu bola. Insting dan intelegensi individu saling terkait menghasilkan sebuah mahakarya dalam olah raga yang penuh gempita…Brazil tempat lahirnya seniman-seniman bola yang menjadi legenda dunia.

Namun apa yang terjadi kini? Tuntutan industri modern telah merubah sepak bola menjadi sebuah drama kolosal yang menuntut pemain bola untuk tidak lagi peduli dengan ‘estetika’ bahkan nilai-nilai sportifitas dalam olah raga. Semua cara dihalalkan asalkan tim meraih kemenangan. Kesebelasan yang bermain buruk bisa jadi mencetak goal dengan cara yang buruk demi tuntutan besar sebuah kemenangan. Brazil pun berubah pola mengejar segala cara demi meraih kemenangan, termasuk mengubah ‘estetika’ mereka dalam strateginya. Hasilnya seperti kita tahu Brazil tersingkir oleh Prancis di perempat final piala dunia 2006! Lalu publik pun meringis; Tragis…Sang maestro itu kehilangan identitasnya.

Berbagai pertanyaan menggelitik hadir ditengah-tengah kejaran sebuah deadline. Dapatkah Brazil menang tanpa harus menghilangkan idealisme mereka?

“Mengubah taktik bermain cantik (estetik) dengan pola menyerang mengejar kemenangan (‘fungsi’ utama bermain bola) membuat tim Brazil tersungkur di piala dunia 2006.”

Kenapa harus peduli dengan harmonisasi art dan desain?

Pada tahun 1994

Kuliah adalah salah satu periode paling indah dalam hidup ini, selain begitu mudah kita untuk jatuh cinta, juga banyak hal baru yang kita tahu dan betapa hausnya kita dengan apa yang sedang dipelajari. Namun disanalah kegelisahan pertama saya muncul, sepulang dari KMDGI ke 2 di ITB saya tidak memiliki hasrat lagi untuk melanjutkan bidang Desain Grafis, rencana pun berubah; seni murni terlihat lebih menantang dibandingkan dengan seni terapan. Proposal pindah jurusan pun mulai dirancang.

Namun segalanya kembali berubah dengan kedatangan seorang maestro graphic designer berkebangsaan Jerman; Uwe Loesch, 1995 ke Jakarta. Dengan melihat poster-posternya yang menakjubkan, sensitivitas saya terguncang hebat melihat betapa graphic design bisa melebur dengan sangat kuat, menghapus keterbatasan bahasa, menciptakan ruang pemikiran dalam keindahan filosofi tipografi berpadu dalam balutan visual dan berubah menjadi pemaknaan yang universal. Saya pun tersenyum, seolah-olah baru keluar dari sebuah galeri seni rupa dan menemukan pencerahan disana.

Saya pun bermimpi seandainya Brazil dilatih oleh ‘Uwe Loesch’ dipastikan dapat terbangun jembatan harmoni antara idealisme dan penerapannya, seperti halnya art dan desain.

Saya jadi ingat cerita seorang teman yang siang hari bekerja sebagai desainer grafis dan malamnya berubah menjadi ‘public enemy’ bersenjatakan puluhan kaleng cat semprot demi alasan ekspresi dan idealisme coretan liar tergambar di tembok-tembok kota. Sedangkal itukah sebuah keseimbangan ekspresi seni dan desain?

Poster Uwe Loesch - Anzettelung Museum für Kunsthandwerk Frankfurt am Main 16 x 21 x 29,7 cm, 1989.

……………………………………..

IQ – poster against radioactive contamination after Tschernobyl (1986) karya Uwe Loesch, sebuah desain poster yang ditransformasikan kedalam sebuah instalasi ruang dan coretan karya seniman era 80’an Keith Haring yang ‘menguasai’ ruang dengan goresannya. Desain memiliki kesempatan untuk diaplikasikan kedalam sebuah medium baru berwujud seni.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Masih adakah batasan seni dan desain dalam dinamika budaya visual global?

Pada tahun 2004

Dalam satu kesempatan saya diwawancara oleh seorang kurator dari Prancis untuk berpameran disana (walaupun tim Prancis favorit saya, namun kali ini tidak ada hubungannya dengan sepak bola). Beberapa karya dipresentasikan dengan sempurna, setelah sekian lama berdialog maka muncullah sebuah pertanyaan yang paling sulit saya jawab sepanjang hidup ini. Pertanyaannya sederhana: “Are you an artist or a designer?”

Keringat dingin muncul, telapak tangan menjadi basah, saya tidak pernah berfikir dia akan bertanya seperti itu. Lalu saya jawab dengan tegas; “I’m a graphic designer”. Perubahan muka langsung terlihat di wajah sang kurator dan tampak malas untuk berdialog lebih lanjut, bad news; saya pun gagal berpameran di Paris.

Self poster karya Irwan Ahmett - Desainer dengan 'rasa' seniman.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Adakah kombinasi yang tepat untuk menyatukan keduanya?

Pada tahun 2008

Jantung saya berdegup keras di stadion indoor senayan, bendera-bendara unik sekilas tampak seperti suku terasing di pedalaman Tibet. Playlist diputar, lagu-lagu dengan unsur ethnic kental membuat suasana ruang kian pekat dengan sesuatu yang bisa menyihir saya selama beberapa jam…musik berdentum…kilatan lampu menyambar…seorang perempuan cantik bertelanjang kaki berlari kesana kemari, ribuan pasang mata mengikuti kemana ia melangkah, menggerakan badan dalam harmoni yang sangat tak wajar.

Saya tidak percaya melihat seorang Bjork sedang menyanyi dengan suara yang powerful didepan mata sendiri. Perkusi digital, synthesizer touch screen dan peralatan musik menghasilkan ritme yang sangat sulit dimengerti oleh banyak orang di studio tempat saya bekerja. Tapi kenapa saya tidak dapat menghentikan histeris selama 2 jam melihat performance tersebut, tiket seharga 750.000 terasa sangat murah untuk sebuah apresiasi jenis musik yang bisa jadi tidak dimengerti oleh ibu saya. Secara sadar saya telah menjadi sebuah obyek dari idealisme Bjork dan saya sangat rela untuk itu.

Hampir dua jam saya rela menjadi korban perpaduan eksplorasi ritme yang menyatukan nada dan bunyi yang tidak terdeteksi oleh musisi pada umumnya, sisi idealisme memikat dalam dentuman nan abstrak.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Manakah yang lebih penting estetika atau fungsi?

Pada tahun 2008

Akhir-akhir ini saya memiliki kesibukan baru yaitu meneliti keaslian payudara artis-artis papan atas di media massa, dari bentuk balon ala Victoria Beckham hingga buah melon Pamela Anderson, parahnya saya jadi pragmatis sering menghakimi beberapa artis yang bisa jadi memiliki barang orisinal tapi 70% saya meragukan keasliannya; Megan Fox, Jessica Alba, Christina Aguilera, Jessica Biel. Fashion pun berubah, BCL semakin menurunkan kembennya, bajupun kian rendah. Belahan dada tampak semakin mengkilat menjadi bentuk estetika yang dapat menyedot arah kamera kemana sang idola melangkah…Yaaa ampun itu semua demi keindahan semata? Apakah payudara itu masih memiliki fungsi yang baik? Bahkan kini di Indonesia dengan uang 23 juta kita bisa mempermak sesuai dengan bentuk apa yang kita mimpikan.

Setahu saya pemilik implant harus memutuskan hal terbesar dalam hidupnya, yakni memilih estetika dan mengesampingkan fungsi. Sekali lagi itu sebuah pilihan hidup! Namun bagi saya payudara adalah organ tubuh kompleks yang memiliki banyak makna dan fungsi. Menghilangkan fungsinya sama saja dengan meng-install Windows di MacBook Pro.

Pilih estetika atau fungsi? Sebaiknya kita tanyakan pada David Beckham!

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Bagaimana perpaduan sempurna estetika dan fungsi?

Pada tahun 2007

Ini adalah sebuah kisah sedih yang membahagiakan, tentang si Mobi. Setiap hari saya mengajaknya berjalan keliling komplek, mukanya yang lucu dan bulunya yang berjuntai seperti boneka, berlari riang kesana kemari, menghampiri setiap anak kecil, mengajaknya bermain petak umpet. Seorang gadis cilik berujar dengan mata yang berbinar; ”Pertama kali liat, aku langsung sayang si Mobi”. Mobi telah kehilangan kepribadian sebagai seekor anjing, dia telah merasa menjadi bagian dari kehidupan tuannya, ingin naik mobil, bermain bola, berenang, dan menikmati ice cream walls favoritnya. Bagaimana binatang sekelas srigala ini melakukan evolusi begitu besar sehingga menjadi man best friend?

Ternyata manusia berperan dalam penciptaan breed tersebut, para breeder menggabungkan ras yang unggul kemudian menghilangkan genetic negatif yang tidak mereka inginkan. Tepatnya evolusi anjing telah dikontrol sedemikian rupa demi kesempurnaan estika dan menciptakan fungsi baru dari binatang pemburu menjadi mahluk sosial dengan temperamen ‘ciptaan’ yang sudah dihilangkan kebuasannya.

Ditahun kelima Mobi mengalami gagal ginjal, kombinasi sempurna estetika dan fungsi ternyata tidak didasari oleh ‘basic genetic’ yang kuat. Anjing setia itu terkulai lemas tak berdaya, saya pun menangis melepas kepergiannya.

Demi alasan estetika dan fungsi manusia mengatur proses evolusi anjing dan kini berhasil mewujudkan bermacam ras anjing modern, tiada yang sempurna kadangkala proses tersebut malah memicu penyakit genetis baru dan kerentanan daya tahan tubuh.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Lessons I have learned

• Perpaduan harmoni estetika dan fungsi dapat dicapai dengan baik apabila memiliki basic genetic (elemen dasar pembentuk) yang baik, dalam hal ini bisa menyangkut eksplorasi, riset, teknis, eksekusi dan proses kreatif. Pada tingkatan tersebut desain memiliki visi dan sejalan dengan perkembangan seni kontemporer, bahkan telah menjadi bagian darinya. Sebegitu bebas dan mendalamnya sebuah proses dikaji lalu ditafsirkan sehingga tidak hanya dipahami secara dangkal, batasan bahwa desain itu harus menyampaikan sebuah pesan terlewati sudah, karena didalamnya mampu menafsirkan simbol yang lebih kompleks. Bahkan dengan ‘kesederhanaanya’ dapat memotret dengan baik apa yang sedang terjadi dalam dinamika sosial budaya dewasa ini. Desain punya kesempatan untuk ditanggapi dan diapresiasi layaknya sebuah karya seni.

• Walaupun batasan antara seni dan desain telah samakin kabur ternyata belum dapat dianggap equal. Desainer yang berkarya secara personal belum tentu disebut karya seni tapi secara value bisa disamakan dengan karya seni. Karena desain berdiri dengan struktur yang dinilaikan sedangkan art tidak. Tapi ketika desain berani untuk keluar dari frame style, trend, tuntutan pasar, atau kebutuhan jangka pendek maka akan mampu meng ‘attach’ semangat art kemudian sebuah desain bisa dimaknai sebagai sebuah karya seni.

• Sebuah obyek disebut desain apabila memiliki kesadaran estika, strategi, parameter, pola, presisi dan fungsi.

• Art merupakan rahim desain, ketika art bertemu dengan kepentingan industri, maka disebut desain. Art dan desain memiliki platform yang berbeda; Desain bergerak kearah fungsi. Sementara Art melayani dan ‘menaklukan’ diri sendiri serta kebebasan memilih ruang, menciptakan penafsiran baru, memiliki pemaknaan lebih dari apa yang diciptakan.

'Short-leg' & 'Extended seat' Desain humor garing ala Droog Design melalui Do Project karya Jurgen Bey. Kursi yang membangkitkan ide dan kreatifitas karena kita harus mengganjalnya untuk dapat memakainya dengan benar…Tiba-tiba saja kita punya kursi dan sebuah perpustakaan mini! Harmoni?

.

____________________________________________________________________________________________________________

.

sebarkan:
  • Print
  • PDF
  • email
  • Facebook
  • Tumblr
  • Twitter
  • RSS
  • MySpace
  • Yahoo! Buzz
  • LinkedIn
  • Ping.fm
  • Google Buzz

Sampaikan Komentar: